Rabu, 24 Oktober 2012

IBADAH HAJI; IBADAH WAJIB SEKALI, BUKAN BERKALI-KALI



*Marlaf Sucipto
Sekarang, adalah bulan Haji, dimana umat muslim sedunia yang mampu, berduyun-duyun ketanah suci Mekkah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawwaroh untuk melaksanakan Ibadah Haji, Ibadah Wajib sekali bagi umat muslim yang mampu. Mampu secara fisik, psikis, dan bekal untuk sampai ketanah suci.

Indonesia; sebagai Negara penganut muslim terbesar didunia, dimana juga pengangguran, kemiskinan merajalela dinegeri kaya ini, semangat berhajinya kaum muslim setiap tahun terus mengalami peningkatan, terbukti dari kebijakan pemerintah yang memberlakukan system antrian bagi calon jama’ah haji yang mau melaksanakan ibadah haji. Mendaftar tahun ini, paling cepat lima tahun lagi bisa berangkat ketanah suci. Kecuali haji plus yang berani bayar dua atau lima kali lipat dari biaya haji normalnya. Haji plus ini sudah diluar logika haji normal, karena mainnya sudah berada dalam hal “Wani Piro?”. Patokan biayanya tidak tanggung-tanggung, karena memang husus orang yang tidak tanggung-tanggung.


Terlepas dari biaya haji normal dan haji plus, tujuan ibadah haji antara yang normal dan yang plus, sama. Sama dalam arti, menunaikan rukun islam yang ke-5. Tatacara ibadahnya dari awal sampai ahirpun juga sama. Tidak ada perbedaan setitikpun. Perbadaan yang mencolok diantara keduanya hanya tempat tidur, makan, fasilitas ke-dunia-an lainya yang bisa dibeli dengan uang.

Walaupun ada perbedaan dalam konteks keduniaan, Jamaah haji yang berbiaya normal dan plus, didepan Tuhan tetap mendapatkan perlakuan yang sama, sama dalam arti, sama-sama punya waktu dan peluang yang sama untuk beribadah kepada-Nya. Status keduniaan tertanggalkan semuanya.

Memaknai Haji dalam kehidupan sehari-hari
Ibadah haji, berada diurutan terahir dalam rukun Islam. Ibadah haji, juga bertujuan menapak tilas atas perjuangan nabi Ibrahim sebagai pembawa agama samawi (tauhid) dimuka bumi. Dan, Ibadah haji juga dilakukan setalah rukun islam yang lain dipenuhi dan dilaksanakan dengan baik. Membaca Sahadat, menunaikan sholat, berpuasa, dan membayar zakat adalah ibadah wajib sebelum haji itu dilaksanakan. Rukun Islam yang lima, selain bertujuan untuk meningkatan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, juga punya maksud implikasi sosial didalamnya. Sahadat itu dibacakan, sebagai pengakuan, jika kita masuk Islam. Sholat itu ditegakkan, sebagai wujud rasa syukur dan menggantungkan doa dari sekian aktifitas hari yang telah dilakukan. Zakat itu dikeluarkan, sebagai rasa kepedulian kita atas sesama mahluk Tuhan yang lemah dan perlu bantuan. Terahir, haji itu ditegakkan, bila rukun Islam yang empat sebelumnya, benar kita laksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketakwaan. Ibadah haji sebagai ibadah penyempurna, dari sekian ibadah rukun islam yang lain.

Menjadi persoalan bila, seorang muslim beribadah haji lebih dari sekali, sedangkan disamping kanan kirinya masih ditemui kaum miskin yang perlu mendapatkan perhatiannya. Seorang muslim yang benar muslim, akan mampu menyeimbangkan ibadah ritual dengan ibadah sosial. Ibadah sosial dalam konteks tulisan ini ditulis, seorang muslim lebih mengutakan membantu fakir miskin, anak yatim piatu daripada berkali-kali melaksanakan ibadah haji. Mengingat, ibadah haji dalam konteks Indonesia membutuhkan biaya yang tidak kecil, dan biaya berhaji tersebut, akan lebih berarti bila diproyeksikan bagi mereka yang layak mendapatkan bantuan dan santunan.

Mari, berhaji cukup sekali, tidak perlu berkali-kali, karena disamping kanan kiri kita, masih banyak yang memerlukan bantuan dan santunan. Mereka juga bagian dari kita, bagian dalam arti, sama-sama mahluk Tuhan yang perlu dihargai dan diapresiasi. Bantulah dengan kadar kemampuan kita, dengan pertimbangan akal sehat dan hati nurani.

Beribadah, tidak harus berhaji berkali-kali. Berhajilah cukup sekali…

*Pensehat IAA Daerah Surabaya
Share:

0 komentar:

Profil

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Ruang ekpresi dan kreasi Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Daerah Surabaya. Untuk menampung seluruh kegiatan dan karya-karya tulis sebagai media informasi alumni annuqayah daerah surabaya yang sesuai dengan visi dan misinya.

Arsip