Senin, 22 Oktober 2012

BERBEDA OKE, BERTENGKAR NO



*Marlaf Sucipto
Apa yang salah dalam pribadi kita, sehingga jika ada yang berbeda kita bertindak beringas dan mempergunakan hukum rimba. Apa yang salah dalam pribadi kita, sehingga bila ada yang tidak sejalan dengan kita dalam memahami agama kita sikat habis mereka. Ada apa-ada apa?

Pertanyaan diatas merefleksi dari acara dialog yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa (SEMA) Ushuludin, PMII Rayon Ushuludin, dan Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) yang rencana awal diletakkan di Auditorium IAIN Sunan Ampel gagal karena tidak diperbolehkan secara mendadak oleh IAIN Sunan Ampel. Ahirnya, acara tersebut diletakkan di Aula serba guna Fak. Ushuludin IAIN Sunan Ampel.

Acara diatas berlangsung ‘kisruh’. Kisruh dalam arti, sampai disesi tanya jawab, ada pertanyaan yang bikin kelompok tertentu marah dengan mengeluarkan kata ‘katzzab’ (bohong) atas jawaban dari pertanyaan yang ditanyakan oleh penanya, ekspresi sikapnya yang menggelagar membuat forum tidak kondusif. Pertanyaan tersebut, bagi saya tidak harus dibawa kisruh, dan mungkin, maksud dari penanya adalah untuk mengklarifikasi dari isu yang berkembang sejak kelompok tersebut menjadi isu nasional. Isi pertanyaan tersebut adalah “Apakah benar, syiah itu menjelek-jelekkan Siti Aisyah dan sebagian Sahabat Nabi?” pertanyaan belum dijawab langsung disanggah oleh Audien yang mengeluarkan kata ‘katzzab’ tersebut. Ahirnya, acara tidak berlanjut, dan selesai tanpa happy ending.

Sikap Kita Yang Masih Seperti Binatang
Saya menggunakan kata ‘kita’, karena mereka masih bagian dari kita. Bagian dalam arti, mereka adalah warga Indonesia, mereka juga umat islam yang sama-sama meyakini Allah sebagai Tuhan yang satu dan Nabi Muhammad sebagai nabinya. Sama-sama menggunakan al-Quran sebagai kitab suci. Yang berbeda diatara kita hanya dalam menafsiri al-Quran dan menggunakan hadits nabi dalam keseharian kita. Tafsir yang berbeda dan hadits yang beragam karena dalam sejarah tafsir dan hadits dilakukan oleh orang yang menurut Allah sama dihadapan-Nya. Apa lagi memang, Tuhan tidak pernah melarang atas siapapun untuk menafsiri al-Quran. Jika Tuhan menganggap kita sama dihadapan-Nya, berarti Tuhan tidak mendeskriminasi manusia untuk melakukan tafsir atas ayat al-Quran-Nya. Difahami dan ditafsiri seperti apapun, asalkan tidak menimbulkan masalah pada dirinya dan orang lain, bagi saya oke-oke saja. Mereka yang melakukan tafsirpun, juga mengira-ngira, kerren-nya, sama-sama berspekulasi atas ayat yang ditafsirinya. Dan semuanya, karena dilakukan oleh manusia yang tidak istimewa seperti Nabi, kadarnya bersifat ijtihad, sedangkat ijtihad, bisa salah bisa benar. Jika salah dapat pahala satu, jika benar dapat pahala dua, kenapa walaupun salah masih dapat pahala? Itu sebagai salah satu bentuk apresiasi atas manusia yang telah berusaha untuk menemukan yang terbaik dari setiap usahanya. begitu dulu keterangan suatu kitab yang juga dikarang oleh manusia, sewaktu saya masih nyantri di Pondok pesantren.

Soal hadits, dalam sejarah juga dijelaskan, bahwa hadits baru diakukan pencatatan (kodifikasi), sejak khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau jadi pemimpin, 300th sejak nabi Wafat. Sebelumnya, hadits-hadits berserakahan dipelapah kurma, tulang unta, kulit binatang, dll. Juga, sebelum Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ummat islam lebih mengandalkan hafalan ketimbang pembukuan. Sedangkan hafalan, sebagaimana kita ketahui, tidak sebagus pembukuan. Sangat mungkin dari sekian hafalan tersebut, terjadi pengurangan, bahkan tidak kecil kemungkinan, juga terjadi penambahan, Karena lemahnya manusia.

Jadi, bila terjadi suatu perbedaan dalam menafsiri al-Quran, memahami hadits, adalah suatu hal yang wajar, mengingat sejarah tafsir al-Quran dan hadits sebagaimana sejarah yang dikemukakan diatas. Bila ada sejarah versi lain, Monggo tak masalah, asalkan, sekali lagi, perbedaan dalam memahi al-Quran dan hadits jangan sampai menimbulkan pertengkaran, peseturuan, pembunuhan. Karena semua itu sudah jelas dilarang oleh Allah melalui kitab suci al-Quran.

Bagi mereka yang masih suka melakukan persturuan, pertengkaran dan pembunuhan karena beda pemahaman dalam memahami al-Quran dan hadits, maka mereka tak ubahnya seperti binatang.

*Gubernur Senat Mahasiswa (SEMA) Fak. Syariah
IAIN Sunan Ampel Surabaya
Share:

0 komentar:

Profil

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Ruang ekpresi dan kreasi Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Daerah Surabaya. Untuk menampung seluruh kegiatan dan karya-karya tulis sebagai media informasi alumni annuqayah daerah surabaya yang sesuai dengan visi dan misinya.

Arsip