Senin, 16 Agustus 2010

Suramadu Oh Suramadu


Oleh : Lan Fang
Mungkin saya sangat ketinggalan zaman. Sejak Jembatan Suramadu diresmikan pada 10 Juni 2009, belum pernah sekali pun saya melihatnya dari dekat, apalagi melintasinya. Padahal, begitu banyak orang berbondong-bondong telah melihat dan melintasi jembatan terpanjang serta termegah di Indonesia itu.

Sudah tentu saya juga ingin "merasakan" Jembatan Suramadu. Akan tetapi, keinginan saya lebih pada keinginan untuk benar-benar "merasakan" daripada keinginan melihat-melintasi atau berpelesir. Saya telah membaca banyak liputan, foto, berita, artikel, komentar, dan sudah tentu pidato mengenai Jembatan Suramadu. Banyak harapan yang ditumpukan dengan beroperasinya jembatan ini, mulai aspek kemudahan transportasi dari Pulau Jawa ke Pulau Madura yang lancar, murah, mudah, dan nyaman sampai terbangunnya efek psikologis bahwa Pulau Madura bukan lagi bagian daratan yang terpisah dari Pulau Jawa.



Dengan demikian, diharapkan percepatan denyut sektor ekonomi, pariwisata, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya bisa menjadi sasaran multiefek yang berimbas positif untuk pembangunan di semua lini Pulau Madura.

Maka, saya amat gembira ketika pada 28-29 Juli 2010 mendapat undangan untuk memberikan materi prosa kepada para santriwati di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Selain bisa berkunjung dan mengenal lebih dekat kehidupan di pondok pesantren, inilah kesempatan pertama bagi saya untuk melihat-melintasi-merasakan Jembatan Suramadu.

Saya membayangkan apakah Jembatan Suramadu seperti jembatan Hongkong-Makau yang akan selesai pada 2015? Oh, rasanya terlalu berlebihan apabila membandingkan Jembatan Suramadu yang panjangnya lebih kurang 5.438 meter dengan jembatan Hongkong-Makau yang panjangnya lebih kurang 29.600 meter berikut penambahan terowongan bawahnya. Sebagai gantinya, saya membayangkan jembatan Hongkong-Shenzhen yang bisa dilintasi dalam tempo lebih kurang satu jam dengan kendaraan umum antarterminal yang sangat mudah, lancar, dan nyaman.

Maka, saya menuju Terminal Bungurasih pada pukul 10.30 dengan harapan bisa mendapatkan bus patas yang nyaman sehingga bisa sampai Sumenep sebelum matahari tenggelam. Sesampainya di terminal, saya langsung menuju jalur bus Surabaya-Madura. Ternyata, untuk menuju Madura, tidak ada perbedaan jalur bus patas atau ekonomi karena cuma tersedia satu jalur.

Saya duduk di bawah corong AC yang anginnya terasa keras berembus mengenai kepala, tetapi kipasnya tidak bisa ditutup. Kursi yang saya duduki sama sekali tidak memberikan ruang longgar untuk bergerak. Bukan saja badan tidak bisa bergerak, tetapi kaki pun tidak bisa berselonjor karena jarak dari antarkursi sangat dekat. Namun, saya terus berusaha menikmati bus yang disebut penumpang di sebelah saya sebagai Patas Surabaya-Madura, walaupun harus terus menekukkan lutut.

Penumpang di sebelah saya berusia sekitar 20 tahun dengan penampilan khas anak muda: T-shirt, jeans, dan sepatu kets. Menurut dia, bus patas yang kami tumpangi akan tiba di Terminal Sumenep dalam tempo sekitar 4 jam. Dalam sehari, biasanya hanya ada dua kali pemberangkatan bus patas dari Terminal Bungurasih ke Madura dengan jam yang tidak bisa ditentukan. Pemuda itu menganggap saya beruntung karena bus-bus selanjutnya tinggal kelas ekonomi saja.

Ia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester III jurusan manajemen yang berasal dari Kangean. Ternyata ia juga seorang pencerita mahir. Dengan lancar ia bercerita tentang kampung halamannya, Kangean, sebuah pulau yang menurut dirinya berada nun di ujung Madura. Setelah tiba di Terminal Sumenep, ia harus melanjutkan perjalanan menuju Kalianget dengan menumpang colt kemudian menyeberang dengan feri sekitar 9-10 jam. Jadi, total waktu yang harus dia tempuh lebih kurang 15 jam. Itu pun dengan asumsi cuaca bersahabat sehingga tidak menimbulkan angin dan ombak besar yang menghambat keberangkatan feri. Pemuda itu tampak bahagia bisa membuat saya ternganga mendengar cerita perjalanannya.

Ia masih melanjutkan ceritanya tentang musim panen yang hanya setahun sekali, warga Kangean yang masih menadah hujan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, orangtuanya yang menjadi buruh migran di Malaysia, dan teman-temannya yang juga berkuliah di Surabaya serta Malang. Olala, ceritanya kian membuat saya terperangah karena membayangkan betapa "sulitnya" kehidupan sehari-hari di Kangean. Artinya, akses transportasi melalui Jembatan Suramadu telah dipergunakan setahun lebih, tetapi angan-angan mengenai perkembangan Madura masih sangat jauh dari maksimal.

Bus patas terus berjalan sambil sesekali berhenti. Pada awalnya saya heran, bukankah bus patas biasanya tidak berhenti? Namun, ternyata bus patas ini berhenti apabila ada penumpang yang hendak buang air kecil. Saya baru menyadari bahwa bus patas jurusan Madura ini tidak mempunyai toilet. Jadi, hal wajar apabila sopir menghentikan bus di tepi jalan untuk memberikan kesempatan kepada penumpang itu. Bukankah sangat tidak manusiawi jika membiarkan penumpang menahan keinginan buang air kecil selama 4-5 jam perjalanan?

Akhirnya, setelah lutut kaku tertekuk, punggung tidak nyaman, dan kepala pusing diterpa angin AC yang salurannya tidak bisa ditutup selama berjam-jam, sampai jugalah saya di Sumenep. Sebagian penumpang sudah turun di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Penumpang yang masih di bus langsung berebut turun ketika tiba di Sumenep. Setelah bus longgar, barulah saya merangkak ke kolong kursi, berusaha mencari sandal saya yang terlepas karena tidak bisa tergapai kaki yang tidak bisa berselonjor.

Begitulah, Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, cerita perjalanan saya "merasakan" Jembatan Suramadu, jembatan kebanggaan Jatim. Ini bukan cerita fiksi atau saya sedang mengarang cerita. Jika tidak percaya, tidak ada salahnya sekali-kali Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur Jatim berikut jajaran dinas terkait dan para wakil rakyat "merasakan" perjalanan ke Madura dari Terminal Bungurasih dengan bus (patas) rakyat.

Lan Fang Penulis Esai, Puisi, dan Novel "Ciuman di Bawah Hujan", Tinggal di Surabaya
tulisan ini diterbitkan Kompas Jatim pada 16 Agustus 2010.
Share:

0 komentar:

Profil

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Ruang ekpresi dan kreasi Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Daerah Surabaya. Untuk menampung seluruh kegiatan dan karya-karya tulis sebagai media informasi alumni annuqayah daerah surabaya yang sesuai dengan visi dan misinya.

Arsip